Peralatan Digital yang Menyebabkan Candu dan ADD

Peralatan Digital yang Menyebabkan Candu dan ADD

Sejak ditemukan,  teknologi modern secara perlahan mendampingi kehidupan manusia sehari-hari dan tiba saatnya pada era ini, teknologi khususnya perangkat digital hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Bermula pada sekitar tahun 1960 saat teknologi masih merupakan hal kecil dalam kehidupan manusia, hingga pada era setelah tahun 2010 saat teknologi nyaris menghubungkan seluruh aspek dalam kehidupan manusia dan tidak lagi berperan sebagai supporter melainkan sebagai enabler yang memegang peran penting di kehidupan kita sehari-hari. (Graphs, 2014)

Hal ini pula yang dibahas di dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Carolyn Gregoire yang berjudul “Our Digital Device Addiction Is Causing ‘National Attention Deficit’”. Artikel tersebut secara ringkas menyampaikan bahwa dengan tingginya tingkat kesibukan, gangguan dari dunia luar ketika berkonsentrasi, dan terlalu banyaknya informasi yang diterima, dapat memberi dampak buruk bagi otak. Hadirnya teknologi yang memberikan efek candu jika tidak dikontrol memperparah kondisi ini dan menyebabkan suatu wabah yang disebut dengan ‘National Attention Deficit’. Hal ini kemudian dikaitkan dengan sebuah gangguan/kelainan dalam pemusatan perhatian atau yang dikenal dalam istilah kedokteran dengan Attention Deficit Disorder (ADD) yang kemudian juga dikenal dengan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD).

ADHD/ADD adalah sebuah gangguan pada perkembangan otak yang menyebabkan penderitanya menjadi hiperaktif, impulsif, serta susah memusatkan perhatian. Pada dasarnya ADD merupakan sebuah kelainan yang bersifat genetik. Namun penelitian terkini menunjukkan bahwa kecanduan terhadap perangkat digital dapat menyebabkan gejala-gejala yang ditunjukkan oleh penderita ADD. Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention, diagnosis dari Attention Deficit / Hyperactivity Disorder (ADHD) meningkat sekitar 15% pada enam tahun terakhir. (Hicks, 2013)

Lantas, apa kaitan antara perangkat digital dengan gangguan ini? Adanya berbagai peralatan digital yang begitu canggih saat ini, akan memudahkan alur informasi untuk bergerak sangat cepat. Pada masa ini, setiap orang haus akan informasi. Hal ini menyebabkan penggunaan peralatan elektronik  semakin tidak terelakkan. Pada akhirnya, semakin banyak orang yang sangat bergantung pada peralatan digital-nya seperti smartphone. Sementara itu, pada anak kecil terjadi ketergantungan pada game elektronik. Kecanduan pada peralatan digital inilah yang dapat  menyebabkan seseorang menderita ADD.

Gejala-gejala umum yang ditunjukkan oleh penderita ADD adalah sulit memusatkan perhatian, hiperaktif, dan impulsif. Sulit memusatkan perhatian tampak pada kondisi seperti sering kehilangan barang, melakukan kecerobohan-kecerobohan, sulit untuk mengikuti instruksi, gagal melaksanakan tugas, mudah terdistraksi, lupa akan kegiatan sehari-hari, tidak mendengarkan ketika sedang berbicara dengan orang lain, serta sulit untuk mengatur pekerjaan dan aktivitasnya. Gejala yang tampak pada kecanduan peralatan digital secara khusus adalah kesulitan dalam memusatkan perhatian ini. Lalu, apakah kita harus menghentikan penggunaan peralatan digital ini sepenuhnya?

Statistik menunjukkan bahwa 58% pengguna smartphone tidak dapat pergi selama satu jam tanpa memeriksa smartphone mereka. Kebanyakan orang bahkan memeriksa gadget mereka saat di kamar mandi, berbaring di tempat tidur, ketika makan bersama dengan orang lain, berkendara, dan beribadah. Kita juga mengetahui banyak kecelakaan yang terjadi saat ini, karena pengendaranya menggunakan gadget mereka saat berkendara. Penelitian menunjukkan bahwa kecelakaan karena menggunakan smartphone saat berkendara berjumlah 25% dari total kecelakaan lalu lintas di Amerika Serikat (Zeman, 2011). Salah satu penyebab kecanduan terhadap perangkat digital adalah ketersediaan informasi yang sangat banyak dan sangat cepat. Kecanduan inilah yang menyebabkan kesulitan untuk fokus dan berkonsentrasi. Jika ketidakmampuan untuk berkonsentrasi ini terjadi, terutama saat melakukan aktivitas yang berhubungan dengan keselamatan fisik, ia akan membahayakan pengguna.

Dari semua gejala yang ditimbulkan ada beberapa cara yang dapat mencegah gejala tersebut berulang kali terjadi. Beberapa cara tersebut diantaranya:

  1. Menggunakan teknologi untuk membatasi penggunaan teknologi yang tidak seharusnya. Hal ini dapat dilakukan dengan  penggunaan plugin dan juga membatasi data usage. Sebagai contoh penggunaan plugin StayFocusd yang membantu penggunaanya agar tidak membuang waktu pada sebuah website pada saat browsing di internet. Kemudian, ada juga aplikasi Kakatu yang dapat diinstall pada smartphone yang berfungsi sebagai parental control terhadap anak pada saat menggunakan smartphone.
  2. Melakukan self meditation. Self meditation adalah sebuah latihan terhadap diri sendiri untuk tidak menggunkan gadget selama beberapa saat untuk menghilangkan ketergantungan. Akan tetapi, hal ini hanya akan berlaku jika bukan untuk keperluan penting. Ada beberapa hal yang dilakukan dalam self meditation antara lain mencari kesibukan seperti bermain musik, membaca buku, dan juga berolahraga.
  3. Alokasikan waktu. Dengan cara membuat jadwal kegiatan sebenarnya kita dapat mengalokasikan waktu kita dengan maksimal. Namun, hal tersebut haruslah didukung dengan komitmen yang tinggi terhadap jadwal yang telah dibuat sebelumnya.

Dari pemaparan mengenai efek samping teknologi tersebut, kita mengerti bahwa seharusnya pada masa pengembangannya dahulu, ada hal-hal yang harus dilakukan agar teknologi ini lebih bermanfaat, terkontrol, dan memenuhi tujuannya. Hal tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Membatasi penggunaan fitur dari teknologi yang berpotensi memberikan efek candu bagi pengguna.
  2. Memberikan fungsi peringatan jika terjadi pemakaian berlebihan yang dapat menyebabkan candu dan kerusakan otak.
  3. Tidak terlalu cepat memberikan seluruh fitur teknologi yang dapat memberikan efek candu.

Setelah mengetahui sejarah perkembangan perangkat digital bersama teknologinya dan kondisi yang ada dewasa ini, dapat disarankan dan disimpulkan bahwa kita tidak perlu menghilangkan perangkat digital dan teknologi dari hidup kita. Yang kita butuhkan adalah bagaimana menggunakannya dengan lebih baik dan bermanfaat serta mengubah perilaku kita yang sudah menyimpang karenanya.

Referensi

Graphs. (2014). Evolution of Technology Timeline. Dipetik 2015, dari http://www.graphs.net/wp-content/uploads/2012/07/evolution-of-technology-timeline.jpg

Hicks, M. R. (2013). Why the Increase in ADHD? Dipetik 2015, dari Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/blog/digital-pandemic/201308/why-the-increase-in-adhd

Zeman, E. (2011). Smartphones Tied To 25% Of U.S. Car Crashes. Dipetik 2015, dari InformationWeek: http://www.informationweek.com/mobile/mobile-devices/smartphones-tied-to-25–of-us-car-crashes/d/d-id/1098800?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s