Teknologi Cyborg Terkait Isu Etika dan Hukum

Teknologi Cyborg Terkait Isu Etika dan Hukum

Cyborg (Cybernatic Organism) merupakan salah satu teknologi yang tergolong mutakhir di era perkembangan teknologi yang begitu pesat sekarang ini. Ada bermacam hal pengertian cyborg, salah satunya yaitu teknologi yang memungkinkan seseorang menanamkan perangkat electric ataupun mekanik yang mengakibatkan seseorang tersebut mendapatkan kemampuan yang lebih baik dari pada manusia normal pada umumnya (Rouse, 2005). Dalam penerapannya sendiri, teknologi ini terbukti mampu membantu umat manusia di dalam berbagai bidang khususnya bidang kesehatan seperti sistem implant obat di dalam tubuh, organ tubuh buatan, pengatur irama jantung, implant kornea dan yang lainnya.

Seperti pengembangan teknologi lainnya, cyborg yang awalnya diciptakan untuk keperluan positif mulai berjalan menuju isu penerapan yang negatif. Salah satu isunya yaitu berkaitan dengan etika. Misalnya yaitu, penggunaan teknologi ini dalam menggunakan manusia menjadi alat perang. Meningkatnya kemampuan dan ketahanan manusia jika menjadi cyborg telah dijadikan alasan oleh beberapa negara untuk memanfaatkannya sebagai alat perang. Hal ini biasanya dilakukan dengan menanamkan bagian tubuh buatan yang secara fisik lebih kuat dari pada manusia normal. Tentunya hal ini sangat bersinggungan dengan isu etika karena telah memperlakukan manusia tidak sebagaimana mestinya.

Isu etika yang berikutnya yaitu teknologi cyborg yang dapat meningkatkan kriminalitas di dunia. Dengan ketahanan dan kemampuan yang lebih dari sebuah cyborg, tentunya kita tidak ingin para pelaku kriminal di dunia beramai-ramai menjadi cyborg hanya untuk mendapatkan kemampuan superior untuk melakukan aksinya. Selain itu juga terdapat isu bagaimana kemampuan cyborg dapat disetarakan pada realita kehidupan sehari-hari. Misalnya saja, di dalam dunia olahraga, akan sulit menyetarakan kualifikasi kemampuan antara atlet cyborg dan atlet manusia secara utuh (Danish Council of Ethics, 2010).  Tentunya cyborg di dalam dunia kerja, pendidikan, dan yang lainnya tidak dapat disamakan kemampuannya dengan manusia normal pada umumnya.

Melihat dari aspek legalitas teknologi ini, salah satu cara untuk mempertimbangkan isu legal ataupun hukum dari cyborg adalah dengan mempertimbangkan kontroversi yang sudah muncul saat ini (Wittes & Chong, 2014). Kontroversi tersebut seperti penggantian bagian tubuh yang rusak dibandingkan dengan peningkatan kemampuan normal manusia. Peningkatan kemampuan normal ini sering kali diasosiasikan dengan kecurangan maupun keuntungan yang tidak adil. Contohnya adalah pemakaian obat-obatan jenis narkotika yang dapat meningkatkan kemampuan seorang atlet sangat dilarang pada saat pertandingan. Atlet yang menggunakannya dapat didiskualifikasi dari pertandingan.

Selain itu, diperlukan juga pertimbangan terkait apakah teknologi tersebut ditanam ke dalam tubuh manusia atau hanya sekedar teknologi eksternal saja. Contohnya saat ini sejumlah bar, klub maupun kasino melarang penggunaan dari google glass terkait dengan perlindungan privasi, dan teater melarang penggunaan teknologi tersebut terkait dengan perlindungan hak cipta. Hal ini tentu akan menjadi masalah apabila teknologi seperti google glass ditanamkan ke dalam tubuh manusia. Namun, di sisi lain kita juga harus menghargai hak mereka yang memiliki disabilitas dan bergantung pada teknologi tersebut untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

Profesor bidang hukum di Southwestern, Prof. Gowri Ramachandran menekankan pentingnya kebutuhan untuk secara khusus mengatur teknologi yang mengatur fungsi tubuh dan mobilitas (Wittes & Chong, 2014). Contohnya adalah si pemilik hak paten dari teknologi tersebut dapat membuat suatu end user license agreement (EULA) untuk membatasi apa yang dapat dilakukan pasien dengan produk teknologi yang telah ditanamkan ke dalam tubuh mereka. Tentu saja dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah dan sejauh mana kebebasan yang kita miliki sebagai manusia tetap terjaga maupun hilang dengan adanya cyborg.

Menurut UU KIP berdasarkan status dan prosedur penyampaiannya, cyborg termasuk ke dalam informasi dikecualikan. Kelompok informasi dikecualikan dibagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu: kerahasiaan negara, kerahasiaan untuk persaingan yang sehat, dan kerahasiaan atas hak pribadi (Central Information Commission Republic of Indonesia, 2015). Pada perkembangannya cyborg mulai terhubung dengan jaringan internet yang menyebabkan data-data berupa informasi penting dari pengguna menjadi informasi yang masuk ke dalam kerahasiaan atas hak pribadi. Informasi pribadi dan rahasia seperti riwayat kesehatan, username dan password akun penting, PIN kartu debit dan kartu kredit, serta informasi pribadi lainnya bisa terancam tersebar. Tidak hanya itu, informasi kerahasiaan negara juga bisa terancam jika pengguna merupakan pejabat penting negara, seperti presiden. Hal tersebut bisa terjadi, khususnya apabila menggunakan mata cyborg. Segala hal yang dilihat bisa saja dikirim ke satu server dengan tujuan memata-matai.

Dengan berbagai isu yang ada terkait kehadiran teknologi cyborg di muka bumi, dapat disimpulkan bahwa teknologi ini dapat memberikan banyak manfaat bagi manusia khususnya bagi mereka yang mengalami disabilitas. Namun dengan penggunaan secara negatif pasti selalu ditemukan pada setiap teknologi yang ada, sekarang tinggal bagaimana cara manusia menggunakan dan mengaturnya. Cara yang paling efektif yaitu memberikan pembatasan pengembangan teknologi cyborg hanya untuk bidang – bidang khusus saja seperti kesehatan. Dari segi legalitas, sangat diperlukan adanya aturan mengikat terkait isu – isu keamanan dan lainnya agar pengembangan teknologi tetap selaras dengan tujuan utama yaitu untuk peningkatan kualitas hidup manusia.

References

Central Information Commission Republic of Indonesia. (2015, June). Komputer dan Masyarakat : More information on the law of the Public Information Disclosure. Retrieved June 27, 2015, from SCeLE Fasilkom UI: http://scele.cs.ui.ac.id/mod/resource/view.php?id=69073

Danish Council of Ethics. (2010, October 21). Recommendations concerning Cyborg Technology. Retrieved July 1, 2015, from The Danish Council of Ethics: http://www.etiskraad.dk/en/Temauniverser/Homo-Artefakt/Anbefalinger/Udtalelse%20om%20cyborgteknologi.aspx

Rouse, M. (2005, September). Definition Cyborg. Retrieved May 27, 2015, from WhatIs.com: http://whatis.techtarget.com/definition/cyborg

Wittes, B., & Chong, J. (2014, September). Our Cyborg Future: Law and Policy Implications. Retrieved June 1, 2015, from Brookings: http://www.brookings.edu/research/reports2/2014/09/cyborg-future-law-policy-implications

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s