KEKELUARGAAN DAN KEKERABATAN

OLEH

1106088051 Driky Armanandi

1106088695 Rizaldy Syahputra

1106014633 Robertto Eko Pranata

 

ABSTRAK

Kekeluargaan dan kekerabatan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan saling bergantung antara satu dengan lainnya. Keluarga merupakan dasar terbentuknya suatu masyarakat di mana keluarga itu sendiri terbentuk oleh sebuah ikatan pernikahan antara pria dan wanita. Kerabat merupakan hubungan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya yang dihubungkan dengan garis keturunan. Hubungan keluarga dan kerabat menjadi penting terutama dalam masyarakat Indonesia karena pada dasarnya keluarga dan kerabat menentukan posisi seseorang dalam suatu masyarakat yang menentukan bagaimana seseorang harus berprilaku antara satu dengan lainnya.

Oleh karena itu dalam tulisan ini akan diulas apa dan bagaimana pengertian dan fungsi dari kekeluargaan dan kekerabatan. Tulisan ini juga akan mengambil beberapa contoh sosial yang terjadi dalam masyarakat sebagai pelengkap untuk menjelaskan suatu istilah maupun fungsi dari entitas tersebut.

Kata Kunci: Keluarga, Kerabat, Entitas

 

Daftar Isi

BAB I.  PENDAHULUAN.. 4

BAB II. ISI. 5

2.1 Keluarga. 5

2.1.1 Definisi Keluarga. 5

2.1.2 Fungsi Keluarga. 6

2.2 Cara – Cara Pembentukan Karakter dalam Keluarga. 7

2.2.1 Enkulturasi, Sosialisasi, Nilai, dan Norma. 7

2.3 Perubahan Dalam Masa Industri 10

2.4 Kelompok Kekerabatan dan Fungsinya. 13

2.5 Sistem Kekerabatan di Indonesia. 13

2.6 Bentuk dari Garis Keturunan. 14

2.7 Keluarga dan Kesukubangsaan. 14

BAB III.  KESIMPULAN.. 16

REFERENSI. 17

LAMPIRAN REFERENSI 18

 

BAB I

PENDAHULUAN

          Keluarga dan kerabat adalah kelompok yang paling dekat dengan setiap individu yang ada di dunia ini. Keluarga sangat berhubungan dengan pernikahan, karena proses pernikahan menghadirkan sebuah keluarga dan akan terus berkembang menjadi sebuah masyarakat / komunitas tertentu. Keluarga dan kekerabatan juga sangat erat kaitannya dengan kebudayaan karena kebudayaan yang ada sangat menentukan perilaku dari suatu keluarga dengan kekerabatan yang ada. Kebudayaan yang ada hampir selalu diturunkan kepada keturunan di dalam keluarga. Garis keturunan itu sendiri dapat berupa lineage ataupun klan.

Keluarga tidak hadir di dunia tanpa tujuan dan alasan. Menerima kodratnya sebagai makhluk sosial, manusia memang mustahil untuk bisa bertahan hidup di alam tempat tinggalnya tanpa interaksi dan pola – pola sosial yang semestinya. Maka dari itu, manusia tidak dapat hidup dalam keluarga, dan keluarga tak akan terbentuk tanpa manusia.

Dengan banyaknya kebudayaan khususnya di Indonesia dan banyaknya sistem keturunan yang ada sering kali tidak mudah dalam menyatukan dua individu menjadi sebuah keluarga. Perlu mempertimbangkan untuk mengikuti salah satu budaya dari individu tersebut, terkait aturan tempat tinggal setelah berkeluarga yang secara umum terbagi menjadi patrilokal, matrilokal, neolokal, dan avunculokal.

Pengetahuan mengenai keluarga sangat penting untuk didapatkan setiap individu, karena dasarnya setiap individu akan membentuk sebuah keluarga. Dengan memahami pola – pola keluarga dan kekerabatan yang ada, diharapkan setiap individu dapat memahami bahwa perbedaan dalam karakter yang tercipta antar keluarga di masyarakat bukanlah suatu hal yang buruk melainkan kekayaan budaya tanah air yang wajib dijaga dan dilestarikan. Perbedaan bukan suatu hal yang memisahkan, namun media pemersatu bagi dua hal yang berbeda.

 

BAB II

 ISI

2.1 Keluarga

Pada umumnya, keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat. Dari sekumpulan keluarga lah akan terbentuk sekumpulan masyarakat pada demografi dan atau geografi tertentu. Kelompok terkecil dalam masyarakat yang disebut sebagai keluarga batih adalah satu keluarga dengan orang tua dan anak, atau terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak yang belum menikah.

Sebutan keluarga batih di Indonesia juga ada yang khas, misalnya sebutan sangambato pada masyarakat Nias (Danandjaja dan Koentjaraningrat, 1971; kesemuanya dalam Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008)). Keluarga tidak dapat lepas dari perkawinan, karena perkawinan antara 2 insan manusia lah yang kemudian akan membentuk sebuah keluarga. Keluarga sangat penting keberadaannya di dalam suatu negara dan bangsa. Di Indonesia sendiri, hari keluarga nasional diperingati setiap tahunnya pada tanggal 29 Juni.

2.1.1 Definisi Keluarga

Menurut Duval, 1985 (dalam Mega, 2006), keluarga dapat diidentifikasikan sebagai nuclear family, yaitu keluarga inti yang terdiri dari orang tua dan anak, dan extended family yang terdiri dari keluarga inti ditambah sanak keluarga yang lain dalam satu generasi atau lebih. Disebutkan juga dalam  Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008) bahwa keluarga adalah kelanjutan dari pernikahan yang memiliki ikatan internal dan eksternal, ikatan kecil dan besar.

Menurut Burgess dan Locke (dalam Mega, 2006), keluarga adalah sekelompok orang yang menghuni rumah tertentu dan disatukan berdasarkan ikatan perkawinan, hubungan darah atau proses adopsi. Menurut Kaleidoskop 1994 (dalam Juzak, 1997), keluarga adalah unit terkecil masyarakat. Keluarga merupakan pangkalan utama kehidupan seseorang. Sebelum memasuki masyarakat, anak-anak tumbuh dalam lingkungan keluarga. Karena itu, kualitas keluarga akan menentukan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia di masa depan.

Dari 4 definisi yang telah dikemukakan oleh Duval, Burgess dan Locke, Eko A. M, Bambang W dan Rizka H, dan Kaleidoskop, dapat diambil kesimpulan awal bahwa memang keluarga berawal dari sebuah perkawinan yang akan membentuk keluarga batih (nuclear family) dan akan berkembang seiring waktu menjadi keluarga besar (extended family) dan kualitasnya menentukan kualitas sebuah masyarakat yang terbentuk oleh karenanya. Keseluruhan peran di dalam anggota keluarga merupakan peran yang saling berhubungan dan terikat erat.

2.1.2 Fungsi Keluarga

Sebagai pemegang peran penting bagi individu di dalamnya serta masyarakat yang dibentuknya, keluarga tentunya memiliki beberapa fungsi tertentu.  Duvall (1985) di dalam Mega (2006) mengungkapkan terdapat 5 fungsi keluarga, yaitu :

  1. Mengembangkan rasa kasih sayang
  2. Pemenuhan kebutuhan akan rasa aman dan penerimaan
  3. Menumbuhkan kepuasan
  4. Menjamin kontinuitas hubungan
  5. Memberikan kesempatan untuk bersosialisasi
  6. Menanamkan rasa tanggung jawab dan nilai kebenaran dan keburukan

Menurut Bird dan Melville (1994) di dalam Mega (2006) juga disebutkan keluarga memiliki tiga fungsi dalam proses stres, yaitu :

  1. Sebagai sumber stres, yaitu apa yang terjadi dalam keluarga dapat mempengaruhi setiap anggotanya
  2. Sebagai penyalur stres dari lingkungan luar. Tentunya sering kita alami bahwa jika salah satu anggota keluarga kita memiliki masalah yang terjadi di lingkungan luarnya, maka sangat berpotensi stres yang dibawa dari lingkungan luar tersebut tersalur ke dalam lingkungan internal keluarga
  3. Mediator stres, yaitu keluarga berfungsi sebagai pelindung apabila salah satu anggotanya mengalami stres yang bisa berasal dari lingkungan luarnya.

Menurut sosiolog Horton dan Hun (1991) di dalam Juzak (1997), fungsi dan peranan keluarga adalah sebagai fungsi pengaturan seksual (terkait dengan pemenuhan hasrat seksual antara suami dan istri), fungsi reproduksi (terkait dengan fungsi sebagai penerus keturunan), fungsi sosialisasi (terkait dengan fungsi sebagai media dalam mengajarkan budaya maupun proses enkulturasi), fungsi afeksi (terkait fungsi keluarga sebagai sumber kebahagiaan dan untuk melangsungkan hubungan), fungsi penentuan status (terkait fungsi keluarga sebagai penentu status ayah, ibu, anak, dan anggota yang lain di dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan eksternal), fungsi perlindungan (terkait fungsi keluarga sebagai tempat berlindung anggotanya yang memiliki masalah atau stres tertentu), dan fungsi ekonomi (terkait fungsi keluarga sebagai penyedia kebutuhan ekonomi dari seluruh anggotanya)

Dari berbagai pandangan mengenai fungsi keluarga di atas, dapat diambil suatu kesimpulan mengenai fungsi umum keluarga sebagai sumber kebahagiaan bagi anggotanya, baik itu kebahagiaan dalam pemenuhan kebutuhan psikologi, biologi, sosial, dan ekonomi. Sebagai makhluk sosial tentunya setiap individu membutuhkan orang lain untuk dapat tetap bertahan hidup, dan individu lain yang ditemukan di dalam hidup seorang manusia adalah keluarganya sendiri.

2.2 Cara – Cara Pembentukan Karakter dalam Keluarga

Suatu keluarga tentu mempunyai karakter masing-masing yang terbentuk melalui proses sosialisasi di dalam keluarga itu sendiri, proses penyaluran budaya turun temurun kepada keturunan baru, maupun melalui nilai – nilai dan norma yang terdapat dalam keluarga dan budaya dari keluarga tersebut. Di bawah ini akan dibahas masing-masing cara pembentukan karakter dalam keluarga.

2.2.1 Enkulturasi, Sosialisasi, Nilai, dan Norma

Enkulturasi sangat erat hubungannya jika kita membicarakan tentang pembentukan karakter keluarga. Menurut Kottak (2006) di dalam Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008) disebutkan bahwa definisi enkulturasi adalah proses kemasyarakatan yang bersifat lintas generasi dan memungkinkan manusia untuk menyampaikan dan belajar tentang kebudayaannya. Menurut Herkovits di dalam Subiyanto (1998), enkulturasi adalah proses untuk membiasakan secara sadar atau tidak sadar, yang dilakukan dalam batas-batas yang diizinkan oleh suatu kebudayaan. Herkovits kemudian menyebutkan bahwa proses ini berlangsung seumur hidup, tetapi berbeda pada berbagai tahap dalam kehidupan seseorang. Dari kedua definisi di atas dapat dipahami bahwa enkulturasi memang merupakan proses individu khususnya di dalam keluarga dalam mempelajari kebudayaan keturunan keluarganya yang secara langsung maupun tidak langsung dapat membentuk karakter individu tersebut beserta keluarganya.

Proses enkulturasi seni ukir di Dukuh Taraman, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Subiyanto, 1998) merupakan satu dari sekian banyak proses enkulturasi yang terjadi di Indonesia. Seni ukir merupakan aset yang budaya yang sangat berharga dan sangat dijaga di daerah Dukuh Taraman ini sehingga dalam kehidupan sehari – hari sangat diupayakan proses enkulturasi terhadap generasi yang lebih muda. Dalam penelitian Subiyanto (1998), terungkap bahwa hal – hal yang mendasari proses enkulturasi seni ukir ini tetap berlangsung secara turun temurun didasari oleh motif ekonomi dan kesadaran sosial terutama pihak pembudaya yang juga dilandasi oleh faktor historis setempat (budaya) (Subiyanto, 1998 : 4). Terdapat 2  jenis proses berlangsungnya enkulturasi seni ini, di antaranya yaitu proses secara langsung dan tidak langsung. Dalam proses secara langsung, sarana proses enkulturasi yang digunakan adalah sekolah dan tempat magang seni ukir, sedangkan untuk proses secara tidak langsung sarananya adalah keluarga, kelompok sebaya, tempat pekerjaan, masjid, dan media massa.
Sarana yang paling efektif untuk proses enkulturasi seni ukir ini adalah sarana tempat magang. Sistem magang yang berlaku ada 2 jenis, yaitu sistem ginaon dan ngenek. Sistem ginaon sendir berasal dari kata ginau yang dalam bahasa Jawa adalah sinau atau dalam bahasa Indonesianya adalah belajar. Dalam sistem magang ginaon ini, yang menjadi pengajar (sing ngajari) adalah pengrajin yang memiliki usaha mebel ukir sendiri dan para anak didik (sing diajari) yang merupakan generasi muda penduduk setempat. Skemanya adalah, para anak didik melakukan magang di tempat mebel ukir tersebut, namun memiliki interaksi yang tidak terlalu intensif dengan pendidiknya.

Ginaon

Gambar 1. Pola Interaksi Sistem Magang Ginaon

 

Sedangkan untuk sistem magang  ngenek berasal dari kata ngenek di dalam istilah transportasi mobil yang berarti seseorang mengikuti ke mana saja sang supir dan mobilnya berjalan. Dalam sistem ngenek, siswa didik langsung belajar kepada sang pengajar yang merupakan buruh ukir di sebuah usaha tempat ukir. Bedanya dengan sistem ginaon adalah di dalam pengajarannya sang siswa didik mengikuti persis apa yang dilakukan oleh pendidik. Dari segi intensitas pertemuan juga pada sistem ngenek ini tergolong tinggi.

ngenek

Gambar 2. Perbandingan pola interaksi ngenek di rumah pendidik dan di tempat pengrajin

(Source: Subiyanto, 1998:126)

Dari enkulturasi yang terjadi di Dukuh Taraman ini, kita dapat melihat bagaimana praktik enkulturasi sebagai cara pembentukan dalam keluarga dan bermasyarakat sangat kental ditemukan di Indonesia. Melalui cara ini pula lah sebuah budaya dapat secara efektif dipahami dan dikirimkan kepada generasi selanjutnya di dalam keluarga.

Cara pembentukan karakter dalam keluarga yang selanjutnya adalah sosialisasi. Banyak ahli yang berpendapat bahwa definisi sosialisasi tidak jauh berbeda dengan definisi enkulturasi tetapi memang berbeda jika ditelusuri secara mendalam. Jika enkulturasi mengarah kepada proses pengajaran dan penurunan budaya secara turun temurun, beberapa ahli sosiologi mengatakan bahwa istilah sosialisasi juga merujuk kepada pengalaman belajar sosial seumur hidup, di mana individu mengembangkan potensial kemanusiaannya dan mempelajari budaya (Macionis, 1996:58, dalam Irmawati, 2004).

Menurut Vander Zanden, sosialisasi merupakan proses interaksi sosial melalui mana kita mengenal cara-cara berpikir, berperasaan, dan berperilaku sehingga dapat berperan serta secara efektif dalam masyarakat (Ihromi, ed 1999:30 dalam Irmawati, 2004). Begitu juga menurut Thomas Ford Hoult yang berpendapat bahwa proses sosialisasi adalah proses belajar individu untuk bertingkah laku sesuai dengan standar yang terdapat dalam kebudayaan masyarakatnya (Vembriarto, 1999:20 dalam Irmawati, 2004).

Dari beberapa definisi di atas tentu kita dapat mengaitkannya kembali pada proses enkulturasi di Dukuh Taraman di mana peserta magang meniru apa yang dilakukan oleh pengajarnya agar bisa sama dengan pengajarnya tersebut dan budaya yang diajarkannya. Lantas apakah perbedaan enkulturasi dan sosialisasi? Margaret Mead (1963) di dalam Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008) membedakannya dengan mendefenisikan sosiologi hanyalah proses penyampaian pengetahuan umum saja. Dengan definisi ini, kita dapat menyimpulkan bahwa di dalam proses enkulturasi di Dukuh Taraman, terdapat proses sosialisasi yang dilakukan oleh pengajar dan siswa yang di ajar dalam tujuan enkulturasi seni ukir. Dari sini pula terlihat jelas bahwa sosialisasi juga menjadi salah satu cara efektif dalam pembentukan karakter di dalam keluarga.

Dalam proses pembelajaran sosial di dalam lingkup keluarga dan masyarakat, tentu ada nilai – nilai yang dipakai di dalam keluarga yang sudah menjadi budaya dan dipegang teguh secara turun temurun. Nilai pula lah yang nantinya juga dapat membentuk karakter dalam keluarga tersebut. Nilai didefinisikan sebagai himpunan gagasan mengenai apa yang benar atau salah, baik atau buruk dan yang diharapkan dan tidak diharapkan dalam suatu kebudayaan tertentu (William, 1970; Kendal, 2008, di dalam Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008)). Ini berarti dalam proses pembentukan karakter dalam keluarga, tentu nilai berperan penting, sebagai pedoman dan jalur pengajaran terhadap keyakinan keluarga mengenai apa yang benar ataupun salah menurut budaya mereka. Karena nilai merupakan pedoman, maka dibutuhkan alat untuk mengaturnya, dan alat tersebut adalah norma – norma yang berlaku. Norma terbentuk dari dari aturan yang telah ada dari perilaku atau tindakan yang telah dibakukan (Kendal, 2008 di dalam Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008)). Dengan adanya nilai dan norma yang berlaku, individu di dalam setiap keluarga memiliki batas yang jelas terhadap perilaku mereka, dan inilah alasan mengapa nilai dan norma termasuk sebagai cara dalam pembentukan karakter di dalam keluarga.

2.3 Perubahan Dalam Masa Industri

Industrialisasi merupakan suatu masa atau proses sosial ekonomi yang mengubah sistem pencaharian masyarakat yang dulunya agraris menjadi masyarakat industri. Hal ini juga berdampak pada konsep ideal keluarga yang pada awalnya berdasarkan pada sumber daya alam sebuah komunitas tetapi kemudian mendekati sumber daya manusia dan tempat-tempat industri berada (Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008)). Dengan perkembangan keluarga yang mengarah ke masa industrialisasi, keluarga akan lebih condong ke arah neolokal di mana pasangan suami-istri yang baru menikah menempati tempat tinggal yang baru yang tidak dekat dengan kerabat dari suami maupun istri.

Di Indonesia kekerabatan dan keturunan merupakan hal yang sangat penting karena kekerabatan dan keturunan menjadi kunci penting jika sepasang pria dan wanita ingin menikah. Sebelum menikah biasanya sering kali ditanyakan dari keturunan siapa, hal ini untuk memastikan bahwa seseorang yang hendak masuk ke keluarga harus diketahui asal-usul dan keturunannya agar seseorang yang masuk itu bukan dari keturunan yang sama yang berdasarkan norma yang berlaku di Indonesia.

Menurut Februhartanty (2002) keturunan dibentuk dengan menelusuri silsilah keluarga secara eksklusif melalui keluarga laki-laki (patrilineal) atau keluarga perempuan (matrilineal). Partilineal dan matrilineal ini merupakan hasil dari sistem keturunan unilineal di mana keturunan diberikan berdasarkan dari garis orang tua.

Keturunan partrilineal adalah keturunan yang dibangun dengan menelusuri keturunan secara eksklusif hanya dari garis laki-laki. Garis keturunan partilineal adalah hal yang biasa pada sistem kekeluargaan di Yunani dan Roma. Di Indonesia, ada beberapa etnis yang juga menerapkan garis keturunan berdasarkan partilineal antara lain seperti Toba, Karo, dan Mandailing (Februhartanty, 2002).

Keturunan matrilineal adalah keturunan yang dibangun dengan menelusuri keturunan secara eksklusif hanya dari garis perempuan. Salah satu contoh dari keluarga matrilineal terdapat di Afrika barat dan juga di Indonesia khususnya etnis Minangkabau. Etnis lainnya yang menerapkan kekerabatan matrilineal sistem di Indonesia adalah etnis di Kampung Pulo yang terletak di Jawa barat tetapi hanya masyarakat kecil jika dibandingkan dengan etnis Minangkabau (Februhartanty, 2002).

patrilineal

Gambar 4. Sistem kekerabatan patrilineal

(Sumber: Februhartanty, 2002)

matrilineal

Gambar 4. Sistem kekerabatan matrilineal

(Sumber: Februhartanty, 2002)

Di samping sistem keturunan berdasarkan unilineal, terdapat juga sistem keturunan berdasarkan ambilineal yaitu individu dari satu keturunan dapat memilih dari ayahnya ayah (kakek) atau ibunya ibu (nenek) dan sebagainya yang berlaku pada anak laki-laki atau perempuan. Di Indonesia terdapat beberapa etnis yang menerapkan sistem keturunan berdasarkan ambilineal seperti Jawa, Kalimantan tengah, Minahasa, dan Sunda (Kodiaran, Koentjaraningrat, Danandjaja, Kalangie, Harsono, 1971 semuanya di dalam Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008)).

2.4 Kelompok Kekerabatan dan Fungsinya

Menurut Marzali (2000, di dalam Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008)), kekerabatan atau kinship lebih menekankan status yang berupa posisi atau kedudukan sosial dan saling berhubungan antar status sesuai dengan prinsip kebudayaan yang berlaku.

Dalam masyarakat Jawa terdapat tujuh puluh satu istilah kekerabatan yang terdiri dari dua puluh istilah dasar dan lima puluh istilah derivatif yang pada umumnya mempunyai bentuk Krama dan beberapa di antaranya ada yang mempunyai Krama Inggil yang kesemuanya membedakan antara darah dengan kerabat perkawinan (Koentjaraningrat, 1984 di dalam Halim, L. (1989)). Sedangkan dalam masyarakat Batak Toba kekerabatan sangat dipengaruhi oleh jenis kelamin si pembicara. Seorang laki-laki akan menyebut kakaknya dengan istilah angkang sedangkan wanita akan menyebut kakaknya  yang sama dengan istilah iboto (Bovill, 1985 di dalam Halim, L. (1989)). Istilah panggilan tersebut dalam masyarakat Batak Toba  menyatakan ego dan posisi dari si pembicara kepada lawan pembicara.

Di Indonesia maupun luar negeri kekerabatan sangatlah mempengaruhi bagaimana seseorang harus berprilaku terhadap orang lainnya. Hal ini menyebabkan orang yang biasanya berprilaku normal dalam kehidupan sehari-hari harus berubah drastis ketika bertemu dengan kerabatnya yang mempunyai posisi yang berbeda.

2.5 Sistem Kekerabatan di Indonesia

Masyarakat Indonesia mengenal sistem kekerabatan yang sangat beragam namun memiliki kesamaan, yaitu adanya perbedaan panggilan bagi kerabat. Adapun di dalam Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008) bahwa ada beberapa panggilan yang khas yaitu, lelaki yang mempunyai anak disebut ayah dan perempuan yang menjadi istrinya disebut ibu, lalu orang yang kemudian muncul ketika ayah dan ibu menikah adalah anak. Kerabat di Indonesia tidak hanya sampai ayah dan ibu, namun ada juga saudara ayah dan ibu, mulai dari saudara kandung sampai saudara sepupu jauh.

Adapun Leonetti, Donna L. & Chabot-Hanowel, B. (2011) pada jurnalnya mengatakan bahwa secara turun-temurun rumah tangga berpusat pada perempuan, bahkan pada patrilocal societies. Sehingga khususnya makanan dan pembagian pekerjaan agar tepat dan optimal bagi setiap anggota keluarga karena dapat secara strategis dipengaruhi oleh perempuan sebagai manager dari dan sebagai target penyaluran energi atau tenaga namun perempuan pada penelitian ini tidak spesifik hanya pada ibu, namun juga pada anak perempuan atau bahkan saudara perempuan. Berdasarkan jurnal tersebut dapat diketahui bahwa sistem kekerabatan di Indonesia tidak hanya dalam mempengaruhi panggilan, namun juga berpengaruh dalam bentuk aktivitas yang dijalani sehari-hari.

2.6 Bentuk dari Garis Keturunan

Kekerabatan sangat berhubungan erat dengan garis keturunan di dalam Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008) dijelaskan bahwa terdapat dua macam garis keturunan. Pertama, lineage yakni kelompok keturunan yang merupakan badan resmi yang anggotanya mengaku sebagai keturunan seorang leluhur bersama dan dapat menelusuri hubungan genaelogis dengan leluhur tersebut. Kedua, klan yakni kelompok keturunan bukan badan resmi yang tiap-tiap anggotanya mengaku keturunan dari seorang leluhur besama tanpa mengetahui sungguh-sungguh hubungan genaelogis dengan leluhur tersebut.

Adapun keputusan dari sebuah keluarga untuk menentukan di mana mereka akan tinggal, di dalam Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008) dijelaskan bahwa dikenal dalam antropologi bahwa terdapat tiga macam area tinggal. Pertama, Patrilokal yakni kediaman pasangan baru berada pada daerah saudara dari suami. Kedua, matrilokal yakni pasangan baru bertempat tinggal di daerah keluarga istri. Ketiga, neolokal yakni pasangan muda menentukan daerah tempat tinggalnya di tempat yang sama sekali baru.

2.7 Keluarga dan Kesukubangsaan

Keluarga merupakan penyebab dan akibat adanya garis keturunan dan pada ulasan ini, anak diartikan sebagai keturunan. Dijelaskan di dalam Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008), “Pada dasarnya keluarga adalah pasangan suami istri dengan anak-anaknya (Suparlan, 2004) dan juga dengan adanya hubungan suami istri yang disahkan oleh negara dan agama, namun ada juga yang tidak memiliki pengesahan”.

Dijelaskan di dalam Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008), “Kesamaan identitas sering menjadi penentu untuk menjalin hubungan di luar daerah asal. Lebih luas dari kekerabatan lokal, kesamaan daerah asal sering dipergunakan untuk bertahan hidup di daerah perkotaan”.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Tsamenyia, M., Noormansyah, I., Uddin, S.(2008) di sebuah universitas yang dimiliki oleh keluarga. Salah satu argumen pada jurnal tersebut yang dihasilkan melalui metode wawancara, diketahui bahwa ketika ada sebuah masalah antara pejabat sering kali tidak diperlihatkan secara langsung, hal ini dilakukan untuk menjalin kedamaian antara satu dengan yang lain, khususnya dengan pejabat yang lebih tua.

Berdasarkan dua bentuk contoh di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu alasan hubungan keluarga terbentuk karena adanya kebutuhan salah satunya kebutuhan untuk bertahan, kebutuhan lain yaitu kebutuhan untuk tetap damai dapat didasari oleh karena hubungan keluarga, dan kesukubangsaan mendasari kedua hal tersebut.

 

BAB III  

KESIMPULAN

Keluarga dan kerabat merupakan bagian yang penting dalam masyarakat. Keluarga memiliki berbagai macam fungsinya, berbeda sudut pandang, maka berbeda juga fungsi yang didefinisikan. Salah satu fungsi yang dibahas cukup mendalam pada ulasan ini adalah pembentukan karakter. Dalam pembentukan karakter, terdapat dua cara yaitu enkulturasi dan sosialisasi. Adapun komponen pembentuk karakter yang muncul ketika proses enkulturasi atau sosialisasi berjalan, yaitu adanya nilai dan norma, karena Dengan adanya nilai dan norma yang berlaku, individu di dalam setiap keluarga memiliki batas yang jelas terhadap perilaku mereka.

Kekerabatan memiliki dampak penting dalam perilaku yang dimiliki individu karena berdasarkan beberapa penelitian juga dapat diketahui bahwa di Indonesia maupun luar negeri kekerabatan sangatlah mempengaruhi bagaimana seseorang harus berprilaku terhadap orang lainnya. Hal ini menyebabkan orang yang biasanya berprilaku normal dalam kehidupan sehari-hari harus berubah drastis ketika bertemu dengan kerabatnya yang mempunyai posisi yang berbeda.

Adapun contoh-contoh yang ditemui di lingkungan khususnya di Indonesia bahwa sistem kekerabatan di Indonesia tidak hanya dalam mempengaruhi panggilan, namun juga berpengaruh dalam bentuk aktivitas yang dijalani sehari-hari.

Bentuk garis keturunan berdasarkan mungkinnya penelusuran genaelogis dibagi dua yaitu lineage yakni, mungkin dilakukan penelusuran genaelogis dan klan yakni, tidak mungkin dilakukan penelusuran genaelogis,

Keluarga dan kesukubangsaan merupakan hal yang sangat berkaitan. Karena berdasarkan contoh yang dideskripsikan pada ulasan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa alasan hubungan keluarga terbentuk karena adanya kebutuhan kebutuhan untuk bertahan, kebutuhan lain yaitu kebutuhan untuk tetap damai dapat didasari oleh karena hubungan keluarga, dan kesukubangsaan mendasari kedua hal tersebut.

 

REFERENSI

Irmawati, A. (2004). PENGARUH SOSIAL KELUARGA, SEKOLAH, TEMAN SEBAYA (PEERGROUPS) TERHADAP PERILAKU BUDI PEKERTI ANAK (Studi Kasus Di Sekolah Menegah Pertama Negeri 123 Jakarta). Retrieved April 06, 2015, from http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/files/disk1/254/jkptuipp-gdl-s2-2004-aisirmawat-12685-t14282a.pdf

Juzak, S. S. (1997). PERANAN KELUARGA SEJAHTERA DALAM MENINGKATKAN KETAHANAN NASIONAL. Retrieved April 06, 2015, from http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/79542-T3381-Peranan%20keluarga-TOC.pdf

Mega, F. (2006). PERAN KELUARGA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PERKEMBANGAN KARIR POLWAN. Retrieved April 06, 2015, from http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/87493-T16824-Fitria%20Mega.pdf

Meinarno, E. A., Widianto, B., & Halida, R. (2008). Manusia dalam Kebudayaan dan Masyarakat. Salemba Humanika.

Subiyanto, S. (1998). PROSES DAN POLA ENKULTURASI SENI UKIR DI DUKUH TARAMAN. DESA MANTINGAN, KABUPATEN JEPARA, JAWA TENGAH. Retrieved April 06, 2015, from http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/files/disk1/153/jkptuipp-gdl-s2-1998-slametsubi-7606-t8986a.pdf

Februhartanty, J. (2002). Family structure, family support and decision making process regarding feeding care among patrilineal and matrilineal families : A qualitative study of karo and minangkabau households. Retrieved April 11, 2015, from http://lib.ui.ac.id/

Halim, L. (1989). Istilah kekerabatan bahasa Minangkabau. Retrieved April 11, 2015, from http://lib.ui.ac.id/

Tsamenyia, M., Noormansyah, I., Uddin, S.(2008). Management Controls in Family-owned Businesses (FOBs): A Case Study of an Indonesian Family-owned University. Retrieved April 10, 2015, from http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0155998207000671

Leonetti, Donna L. & Chabot-Hanowel, B. (2011). The Foundation if Kinship. Retrieved April 10, 2015 from http://www.proquest.com/docview/871790889/16DE56E0D6384F32PQ/14?accountid=1724

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s